Jumat, 10 Januari 2014

Elektronik Learning (E-Learning)

Proses belajar-mengajar di perguruan tinggi secara konvensional adalah dengan menggunakan ruang kelas dan fasilitas pendukung seperti papan tulis dan LCD Projector. Mahasiswa dan dosen melakuan interaksi secara fisik atau nyata di ruang kelas.

Namun, proses pembelajaran secara konvensional tidak dapat menjamin perluasan akses material pengajaran kepada universitas lain, terutama yang berada di provinsi atau daerah yang jauh dari pusat belajar-mengajar tersebut.

Oleh karena itu, diperlukan teknologi untuk membantu perluasan akses tersebut. Salah satunya adalah teknologi e-learning. Apa saja aspek penting untuk mendukung proses pembelajaran virtual ini?

Selayang Pandang e-learning

Secara sederhana, e-learning adalah memindahkan proses belajar-mengajar secara konvensional kepada dunia maya, atau ke internet. Umumnya, aplikasi yang digunakan adalah web-based. Pada aplikasi e-learning, dapat kita temukan fitur ruang kelas virtual, video streaming/live, papan tulis virtual, kuis/ujian virtual, discussion thread, kuesioner online, TV online dan berbagai fitur pendukung lainnya.

Indonesia sudah memiliki teknologi tersebut, dan salah satunya disosialisasikan oleh Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI (Pustekkom Kemendikbud RI)

Pustekkom Kemendikbud memiliki berbagai macam aplikasi e-learning, yang dapat digunakan untuk menjamin perluasan akses material pembelajaran ke seluruh Indonesia, secara gratis, selama terdapat jaringan internet. Berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia juga telah menggunakan e-learning web based untuk proses belajar-mengajar mereka.

Salah satu aplikasi web yang paling umum digunakan untuk e-learning adalah Moodle, yang merupakan platform Open Source dan gratis. Moodle juga dikenal sebagai Course Management System (CMS), Learning Management System (LMS), dan juga sebagai Virtual Learning Environment (VLE). Sejauh ini, Moodle telah melayani lebih dari 70 juta user, termasuk di Indonesia.

Perbedaan pembelajaran konvensional dan e-learning

Sepintas, seakan tidak ada bedanya antara proses belajar-mengajar secara konvensional dan e-learning. Seakan-akan, dengan memindahkan proses pembelajaran ke dunia maya, maka semua proses belajar-mengajar akan dapat berjalan sama persis seperti teknik konvensional, hanya saja ini dilakukan pada aplikasi web based. Namun, pada akhirnya, asumsi seperti ini terbukti adalah salah kaprah.

Perbedaan proses antara kedua plaform tersebut ternyata sangat signifikan. Contohnya, pada proses video streaming, baik secara recorded atau live, ternyata tidak bisa diperlakukan sama dengan proses belajar-mengajar secara konvensional.

Pada sesi  video streaming, tutor harus mempersiapkan slide supaya dapat dengan mudah dipelajari via video, yaitu tidak boleh terlalu banyak kata-kata. Tutor juga harus fokus terhadap kamera, karena terkadang tutor suka menyamakan kelas virtual dengan konvensional, sehingga tidak fokus dengan kamera.

Tutor juga harus bisa menjaga jarak dengan baik terhadap mikrofon, yaitu sebanyak satu tapak tangan, supaya suara terekam dengan baik. Sementara itu, pada discussion thread, baik tutor dan mahasiswa harus selalu siap secara online, sehingga interaksi yang berkesinambungan selalu terjaga.

Secara garis besar, problematika e-learning terpusat pada manajemen konten pembelajaran. Tutor dituntut untuk selalu update konten tersebut, sementara mahasiswa dituntut untuk selalu mengikuti update.

Berhubung interaksi antara tutor dan mahasiswa terjadi di dunia maya, maka kedua belah pihak harus rajin mengakses dan me-manage LMS, yang merupakan backbone utama proses pembelajaran. Pada akhirnya, memang diperlukan perubahan mindset vis a vis pembelajaran konvensional.

Tutor dan Pembelajar Independen

e-learning tidak lebih dan tidak kurang adalah sebuah alat bantu proses belajar-mengajar. Pada akhirnya, the man behind the gun yang akan paling menentukan apakah proses tersebut sukses atau tidak.

Di sini, baik tutor dan mahasiswa dituntut untuk menjadi insan yang independen. Apa artinya? Tutor dituntut untuk kreatif dalam menciptakan konten, sementara mahasiswa dituntut untuk aktif dalam memberikan pertanyaan, feedback, maupun kritik.

Jika salah satu pihak, atau malah kedua belah pihak, menjadi pasif dan tidak aktif dalam menggunakan semua fitur aplikasi e-learning, maka dapat dipastikan bahwa proses belajar mengajar akan gagal.

Memang benar bahwa menjadi kreatif merupakan prasyarat untuk pembelajaran konvensional juga. Namun perlu ditekankan, bahwa proses belajar mengajar di dunia maya sangatlah berbeda dengan konvensional.

Di sini, seorang tutor dan mahasiswa tidak menghadapi manusia atau dunia nyata, namun menghadapi layar komputer. Di sini, mindset kita dituntut untuk menjadi terbuka dan kreatif dalam rangka mengekplorasi teknologi yang terbaru.

Menjadi insan digital native, yang selalu berhasil mengoptimalkan perkembangan TIK terbaru, adalah syarat utama supaya e-learning bisa berjalan dengan baik. 

Menurut analisis saya bahwa pembelajaran secara e-learning memang harus lebih ditingkatkan oleh semua kalangan karena bukan saja praktis untuk proses kegiatan belajar mengajar tetapi juga bisa menghemat waktu pada proses belajar karena murid tidak harus datang ke tempat yang melakukan kegiatan belajar mengajar.
 
Referensi :http://tekno.kompas.com/read/2014/01/07/1152542/E-Learning.Agar.Pembelajaran.Makin.Luas

Berguru Bukan Hanya Berbuku

Selagi saya sedang asik browsing dengan mesin google secara tidak sengaja saya menemukan artikel yang di dalamnya mengandung arti yang sangat dalam tentang pentingnya kita berguru tetapi bukan hanya buku, Berikut ini isi artikelnya cekidot ^_^ :

Diantara para kader dakwah mungkin banyak yang bertanya ? mengapa saya harus hadir di pembinaan rutin, padahal saya mungkin tidak tahu urgensinya apa? mengapa saya harus hadir di sementara saya tidak tahu urgensinya apa? mengapa agenda pembinaan harus sebanyak itu ? padahal kayaknya saya ikut tiap agenda pembinaan, sama2 aja, saya duduk datang diam, mendengarkan, lalu pulang ? apa urgensinya ikut agenda pembinaan tersebut ?
ketahuilah, untuk menuntut ilmu ntm itu harus berguru, bukan hanya berbuku ! berguru itu artinya tallaqi, bertemu langsung dengan guru yang akan memberikan kita ilmu. Berguru itu artinya menaruh hormat pada siapa yang akan memberikan ilmu kepada kita. Berguru itu artinya berkorban, karena kitalah yang harus mendatangi ilmu, bukan sebaliknya !!
sementara itu dizaman sekarang, saat informasi mengalir sedemikian deras, banyak kader yang melupakan arti berguru. Ia merasa cukup dengan membaca info tentang islam yang banyak beredar di dunia maya. Ia merasa cukup dengan berbuku, dengan membaca dan menyerap informasi yang tersedia.
betap seorang ustadz pernah ditanya : “ustadz mengapa tidak pernah mau memberikan handout materi dari training / materi tadi ?”.
Ustadz menjawab : “agar ntm belajar akh, kalau engga begini ntm ga belajar. Coba ntm refleksikan, berapa banyak dari kita yang sudah beli buku ma’dah tarbiyah, bahkan sudah ditulis syarahnya, tetapi berapa coba yang sudah mendalaminya ?? sementara dulu ketika ma’dah tarbiyah belum dibukukan, belum dicetak, setiap kader berlomba untuk memahaminya, berusaha sekuat tenaga untuk bisa dihafal, untuk kemudian diberikan kepada binaannya. Sekarang, semangat itu makin luntur akhi ! Karena itulah saya jarang sekali memberikan materi yang saya sampaikan, agar barang siapa yang ingin mendapat ilmu, ia harus datang, harus hadir ditengah2 pertemuan kita. Karena yang ingin ana sampaikan bukan hanya materi akhuna sayang, tetapi semangat, energi, dan ruh, yang bergerlora dari materi-materi tersebut !!”
Bukankah karena itu juga pertemuan pekanan kita yang indah disebut liqo’at yang artinya pertemuan. Dimana salah satu parameter utama keberhasilan, parameter sehatnya liqoa’at adalah KEHADIRAN para kader dalam forum bermandikan cahaya tersebut !? Jadi mau tidak mau ikhwah fillah, kita memang harus berguru. Manhaj kita mengajarkan demikian.
ikhwah fillah, Kenapa engkau harus berguru, tidak hanya berbuku? Karena kata-kata mungkin memiliki ilmu dan semangat, namun hati hanya bisa disentuh dengan hati…

Menurut pandangan saya terhadap artikel diatas itu memang benar adanya jadi setiap orang yang ingin mendapatkan ilmu bukan hanya orang tersebut membaca buku ataupun yang lainnya tetapi orang tersebut juga harus berguru langsung dengan orang mengerti di bidangnya, karena sudah rahasia sang pencipta bahwa apabila kita ingin memiliki ilmu yang bermanfaat tidak selamanya harus membaca buku walaupun buku tersebut memiliki semua keinginan yang kita inginkan.. sekian ^_^  

Referensi :http://taufiqsuryo.wordpress.com/page/2/

Unik, Semua Pelayan di Restoran Ini Kembar

Di Rusia, bisnis kuliner menggila. Mulai restoran dan cafe, persaingan di bisnis cukup ketat. The Twins Star, sebuah restoran unik di Rusia sajikan sesuatu yang berbeda. Di restoran tersebut, semua pelayan yang menjamu pelanggan adalah kembar (identik).

Adalah Alexei Khodorovsky pemilik restoran tersebut yang miliki tak biasa ini. Ia mencari cara bagaimana membuat pelanggan tertarik singgah dengan konsep yang berbeda. Tak hanya lain daripada yang lain, konsep tersebut juga menjual. Tak hanya kembar, para pelayan di The Twins Star juga diwajibkan memakai pakaian yang sama dengan kembarannya.

Memang konsep tersebut akan sedikit membingungkan pelanggan. Bayangkan saja, mereka harus ingat betul pada pelayan mana memesan makanan. Lantas, bagaimana mengingatnya, wajah dan pakaian mereka saja sama. 

Justru ini yang menjadi daya tarik. Pelanggan seakan tertantang dan termotivasi. Akan tetapi tetap ada hambatan untuk terapkan ide brilian ini. Alexei Khodorovsky pun mengakui sempat merasa kesulitan.


Ia mengeluh cukup sukar mencari calon karyawan pasangan kembar bersaudara. Jika yang satu tertarik, belum tentu satunya setuju. Jika yang satu sedang menganggur dan sudi bergabung, belum tentu yang satunya senada. Bisa jadi ia sudah miliki pekerjaan.

Menurut analisa saya kebanyakan restoran yang beroperasi baik di kota maupun tempat lain memang tidak menggunakan pelayan atau pegawai yang memiliki paras wajah kembar, tetapi dengan adanya restoran yang sudah di sebutkan oleh artikel tersebut mungkin bisa saja menarik perhatian para pemilik restoran lainnya untuk mengadopsi hal yang sama. Memang tidak mudah suatu tempat makan atau restoran memiliki pelayan atau pegawai yang memiliki paras yang kembar tetapi hal itu bisa saja membedakan restorannya dalam hal keunikan sehingga nantinya para pengungjung ada yang tertarik ataupun nyaman dengan pelayang kembar tersebut.

Referensi :


http://eotika.blogspot.com/2013/12/unik-semua-pelayan-di-restoran-ini.html

Berguru di kelas cinta agar tak jatuh bangun dipermainkan

Menjadi pria mapan, tampan dan tinggal di ibu kota bukan jaminan memiliki kekasih hati. Semua bergantung pada usaha dan tentunya takdir Sang Kuasa.


Meski tak semudah membalik telapak tangan, sesungguhnya persoalan mendapatkan cinta sejati itu cuma masalah waktu. Selain itu tentu soal strategi bagaimana bisa mendapatkan si idaman.

Tapi itu bukan tragedi. Sebab semua orang punya kesempatan sama untuk bahagia dengan pendamping hidupnya. Hanya saja, dalam perjalanannya tak jarang kendala menghadang di depan mata.

Banyak cara menyelesaikannya, selama tak merasa putus asa. Misalnya dengan mengikuti kelas cinta Hitman System yang didirikan tiga orang pria muda, Lex, Kei dan Jet.

Hitman System adalah grup pengembangan diri profesional untuk memaksimalkan diri dalam bidang romansa yang modern, sehat dan bahagia. Ketiganya membentuk grup ini sejak 2006 lalu. Lahir di Jakarta, kemudian grup ini berkembang ke beberapa kota besar di Indonesia.

Di tiap daerah, mereka yang merasa butuh teman tukar pikiran soal kehidupan cintanya lantas membuat komunitas kecil. Total ada 6.000 an yang mendaftar jadi peserta Hitman System.

Mungkin banyak yang belum tahu keberadaan kelas cinta ala Lex dkk. Tapi bagi Anda yang berminat, mungkin bisa lebih dulu mengenal mereka lewat www.hitmansystem.com.

"Di dunia maya kita dikenalnya sebagai portal informasi tentang percintaan. Memang yang kita tawarkan informasi pelajaran tentang percintaan," kata Lex, saat berbincang santai dengan merdeka.com, beberapa waktu lalu.

Mulanya, peminat grup ini sebagian besar pria single. Tapi dalam perjalanannya, bahkan ada pasangan suami istri yang ikut kelas Hitman System dengan harapan mendapatkan tips untuk mempertahankan romansa dalam hubungan mereka.

"Jadi akhirnya sekarang untuk pria wanita yang single, couple, suami istri, bahkan yang sudah bercerai. Semua umur," jelasnya.

Lex yang merupakan sarjana Fakultas Linguistik Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Indonesia, mengaku tak mudah membuat grup seperti ini. Dia bersama Jet dan Kei harus melakukan riset pribadi sampai sepuluh tahun sebelum menemukan pemahaman baru tentang dinamika sosial romansa.

Banyak kelas yang ditawarkan Hitman System untuk membuat mereka yang tak percaya diri bisa tersenyum lagi untuk memperjuangkan cintanya. Seperti pengembangan diri, pelatihan komunikasi, manajemen gaya hidup, konsultasi romansa, personal rebranding, serta terapi kepribadian.

Soal keberhasilannya, tentu pribadi dan kemauan peserta sangat menentukan.

"Yang jelas kita bukan dating service apalagi melatih jadi seorang playboy, womanizer, ataupun sosok Don Juan sang penggoda wanita yang memanipulasi untuk kepuasan pribadi," beber Lex.

Lex menambahkan, tak ada batasan umur untuk mengikuti kelas mereka. Tapi dia sangat tak menyarankan mereka yang berusia di bawah 19 tahun mengikuti kelas ini.

"Sebab di usia itu, ditakutkan belum cukup pengalaman," tandasnya.

Menurut analisa saya hal seperti yang dilakukan pada artikel ini merupakan solusi untuk mereka yang memang membutuhkan masukan lebih tentang pengetahuan terhadap percintaan tetapi juga diri sendiri lah yang berperan penting dalam hal menemukan dan menentukan pilihannya masing masing maka dari itu seorang yang ingin merubah perunutungan terhadap asmaranya harus mampu melewati rintangan rintangan yang akan menghadang dalam usaha mendapatkan idaman hati. Tetapi bukan hanya usaha yang perlu dilakukan oleh seorang yang ingin mendapatkan wanita idamannya mereka tidak lupa berdoa terhadap yang maha kuasa karena hanya kepadaNYA lah garis jodoh sudah ditentukan. 
Referensi :

Twitter Facebook Digg Favorites More